March 22, 2009

waktu

reactions 
Waktu

Berapa banyak waktu yang terlewat saat kita berwisata menelusuri budaya dan melabuhkan diri di kota yang berbeda-beda?

Berapa banyak waktu yang kita habiskan saat menempuh perjalanan menemui kekasih lalu memadu sayang di keheningan malam?

Berapa banyak waktu yang kita pikir terbuang percuma saat kita menemani ibu belanja ke pasar, membantu ayah membetulkan atap, atau sekedar membantu adik belajar matematika?

Nol. Nihil.

Tidak ada yang lebih berharga dalam hidup daripada perjalanan hidup itu sendiri. Tuhan telah menghadiahkan kanvas putih dan melukiskan awan, gunung, lautan, pepohonan, mentari serta pelangi didalamnya. Sementara kuasa kita lah untuk melukiskan rumah, teman, keluarga, dan perjalanan indah dalam menempuh tujuan. Masing-masing dari kita adalah pelukis kehidupan, mewarnai dan mengisi kanvas pemberian Tuhan.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang waktu, karena detik hanyalah satuan ciptaan manusia. Ciptaan yang malah membuat kita terbebani. Sekonyong-konyong diajari untuk berambisi, meraih target, memenuhi pikiran dengan imaji-imaji dan mengharuskan kita meraih hal bernama mimpi.

Bayangkan bagaimana rasanya saat kaki sudah tidak bisa melangkah dan mata sudah tidak bisa melihat, saat kekasih yang memenuhi hari-hari dan selalu pengertian kini terlanjur dipinang orang lain, saat ibu dan ayah sudah terbaring di rumah sakit dengan penderitaan, atau saat adik sudah terlanjur terjerumus narkoba dan bebasnya pergaulan. 
Saat itulah waktu menjadi berharga. Berharga karena kita berharap dapat memutarnya kembali, berharga karena kita rela membeli saat-saat yang hilang berapapun harganya bahkan menukarkannya dengan diri.

Waktu menjadi berharga saat semuanya sudah terlambat.

Salah satu petinggi Indosat bercerita saat saya menjamunya makan siang. Beliau menceritakan tentang pamannya yang bersepeda dari Bandung ke Jakarta, menembus Padalarang-Cianjur- lalu puncak. Kemudian dari Bandung ke Surabaya, dan yang lebin gila beliau bersepeda menempuh lintas sumatra. Betapa terpukau dan terpukulnya saya saat tahu bahwa pamannya hanya mengeluarkan kata-kata sederhana "ah, sepeda'han (sunda) ah..kemana yah?".
Begitulah, saat jarak, ketinggian dan halangan tidak menjadi beban. Saat kita bisa menikmati perjalanan dan hanya berfokus pada tujuan, maka waktu menjadi tak benilai. 

Saya juga terinspirasi saat menonton Discovery Channel dan National Geographic. Saat Arkelologis meneliti Velociraptor selama 10 tahun hidupnya. Juga seorang peneliti es, yang telah meneliti peningkatan kadar karbondioksida dalam es di antartika, kalau tidak salah sejak tahun 1980 an. 
saat itu saya berpikir, what the heck are they doing? Such a waste of time!

Namun saya ingin berhenti berpikir kerdil, dan saya ingin belajar menyadari bahwa hidup bukan sebuah target, timeline, deadline,  performance evaluation, atau key performance indicator. Hidup adalah sebuah perjalanan penuh hiasan dan warna, yang harus kita lukis dengan sebaik-baiknya, karena Tuhan hanya memberi kita satu kanvas untuk itu. 
Keindahan akan tampak saat kita tiba di penghujung kemudian sejenak melihat kebelakang, meniti kembali memori yang sudah kita lalui. Sudah tentu jalan yang dipenuhi kebahagiaan, orang-orang terkasih, tawa, dan kebaikan merupakan hadiah utama sebelum kita mati.

Jangan bergabung menjadi anggota di komunitas agony, saya pun berusaha merangkak keluar dari lingkaran pekat ini.
Oh iya, ada yang saya lupa ceritakan, Si Paman yang suka bersepeda itu tidak pernah membawa uang sepeser pun dalam perjalanannya. Hanya dua set pakaian yang menemaninya dalam  setiap perjalanan. Setiap kali waktu sholat, dia mencari masjid dan berdiam sejenak selesai sholat. Ajaibnya, akan selalu ada orang yang menghampirinya dan menanyakan apakah dia sudah makan, dan kemudian orang itu pun mengajaknya untuk makan.



7 comments:

sonn said...

jadi? masih dikejar target?

Babisuper said...

sssttt...

njis, ah.

ezra said...

target adalah pacar yg lagi PMS. huehehe..

Babisuper said...

Tau teori gw ngga?..
cewe berada dlm keadaan baik hanya selama 1 minggu dlm sebulan.
1 miggu lainnya, pra haid
1 minggu lainnya, haid
1 minggu lainnya, pasca haid

There's what you deal with..

lolita in pijama said...

nice thought..

but the matter of fact it's simply because of the men they're dealing with...

hehheheheheee...
=p

nice writing anyway..
salam kenal ya =)

Babisuper said...

Hi Lolita in Pijama..:)

Anonymous said...

Hohoho.. Selalu jatuh akan cara dan gayamu bercerita. Hiii..

1 Minggu Pra Haid?
1 Minggu Haid?
1 Minggu pasca Haid?

Nampak tidak berlaku padaku yang Haidnya 3 bulan sekali, sekali dapet juga paling cuma 3 hari. Hehehehehe.. Frekuensi marah2nya jadi jauh lebih minim daripada wanita pada umumnya berati gw, yak?

Harus Diintip

Saya Ini

My Photo
Pria sederhana yang sedang menjalani hidup dengan berbagai caranya. Lebih memikirkan orang lain dan sekitar daripada diri sendiri. Berpikir bahwa kebahagiaan bukanlah keegoisan. Ah ya, tidak perlu merasa aneh.. Saya ini..Cukup ramah untuk dijadikan kenalan. Cukup nyaman untuk dijadikan teman. Cukup loyal untuk dijadikan sahabat. Cukup sabar untuk dijadikan sandaran. Cukup dewasa untuk diartikan, dan cukup mumpuni untuk dijadikan Nabi. Oh, tidak perlu protes. Ini hanya saya lagipula.