Kau ada, tapi tiada. Keberadaanmu hanya terdefinisikan oleh mata, tapi kosong dan tak bermakna dalam jiwa. Aku yang melihatmu datang & pergi entah kemana. Ibu bilang kau pergi bekerja, dan ketika pulang membawa plastik hitam berisi makanan dan kejutan. Ini menjadi kejutan, karena kau baru lakukan setelah pergi berbulan-bulan dan hanya menghinggapi kami satu kali. Maaf jika aku sering tak bereaksi, tak menunjukkan kerinduan dan tak mesra memelukmu saat kau datang. Cium tangan, hanya itu, karena hanya itu yang diajarkan oleh guru agama.
Aku tidak akan memanggilmu jahat, aku tidak akan menyebutmu egois. Karena kau yang hadir hanya saat kau menginginkan, bukan saat aku membutuhkan. Aku yang tidak tahu apa itu arti dewasa, bertahun-tahun kulewati mencarinya sendiri. Hingga aku terlalu banyak bergelut dengan perbedaan, karena tidak ada yang mengajariku. Tidak ada yang mengajariku cara berkelahi, atau membalas ketika aku dipukuli teman sekelas. Saat aku melihat ayah lain mengajari anaknya untuk membalas, aku yang bercerita pada ibu malah disuruh berdiam diri. Tapi aku tidak menangis, Ayah. Karena aku masih berdarah laki-laki.
Saat aku dan teman-teman bermain hujan dan bergulat lumpur di lapangan, aku tidak melihat tawamu di depan teras rumah. Aku hanya melihat ibu yang menungguku dengan segagang sapu. Siap untuk meninggalkan bulatan biru di pangkal pahaku, dan kalimat yang akan kudengar adalah "cepat ganti baju!", bukan "hahaha, menang kamu Nak?" seperti layaknya kalimat seorang ayah. Karena kau tidak ada, Ayah. Kau tidak pernah ada disana.
Dulu aku tidak bisa berlari pulang, berlari kebelakang karena ketakutan, berlari karena kebingungan dan mencari-cari punggung yang aman. Punggung seorang ayah yang bisa melindungiku dari dunia dan sandiwaranya. Kau bukanlah yang pertama terlintas dipikiranku ketika aku membutuhkan jawaban, karena aku terbiasa berpikir sendiri. Kini pun aku berdiri sendiri.
Kini kau sudah pulang, tetapi kini aku yang pergi. Janganlah sedih, dan janganlah mengulangi yang dulu lagi. Pulang dan diamlah, temani ibuku. Satu-satunya hal yang dapat aku petik & pelajari darimu adalah, untuk tidak menjadi sepertimu.
Karena yang kami butuhkan bukan hanya segumpal daging dan darah, melainkan sebentuk sosok.

4 comments:
ah teguh...
ih, popi..
:)
Telat komennya..
Ini adlh 1 hal yg plg aku tkt tanyakan..hny mendengar & menunggu crita brikutnya darimu..
*ayuayuayu : you have the privilege to ask me anything, dear :)
Post a Comment